Langsung ke konten utama

MAKALAH PENGENDALIAN VEKTOR

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat serta hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan sebuah makalah tentang ‘‘Pengendalian Vektor Dan Tikus’’.
Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengendalian Vektor Dan Tikus. Selain itu, untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas mengenai cara pengendalian vektor.
Saya menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena ini saya sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.






Makassar, 3 April 2020






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Tujuan..........................................................................................................1
C. Manfaat........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Vektor Tikus................................................................................................2
1. Pengertian Vektor..................................................................................2
2. Penularan Penyakit................................................................................2
3. Penyakit Yang Disebabkan Oleh Vektor..............................................4
B. Pengendalian Vektor Tikus.........................................................................8
1. Pengendalian Secara Kimiawi...............................................................8
2. Pengendalian Secara Fisika-Mekanik..................................................10
3. Pengendalian Lingkungan ...................................................................11
4. Pengendalian Genetik...........................................................................11
5. Upaya Pengendalian Binatang Pengganggu.........................................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................13
B. Saran...........................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA








BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberadaan vektor dan binatang pengganggu di lingkungan kehidupan manusia sudah dimulai sejak pertama kali manusia menciptakan tempat untuk bermukim. Bangunan tempat tinggal manusia memberikan tempat pula bagi berbagai vektor dan binatang pengganggu untuk berlindung, memperoleh makanan dan berkembang biak. Dengan kondisi lingkungan yang relatif tidak ekstrim dan bebas dari musuh-musuh alaminya serta tercukupinya kebutuhan makanan, maka populasi vektor dan binatang pengganggu itu dapat terus meningkat sedemikian rupa sehingga menimbulkan masalah kesehatan manusia.
Vektor dan binatang pengganggu dapat merugikan manusia, merusak lingkungan hidup manusia dan pada gilirannya akan mengganggu kesejahteraan hidup manusia, oleh karena itu keberadaan vektor dan binatang pengganggu tersebut harus dikendalikan. Pengendalian vektor dan binatang pengganggu adalah suatu upaya untuk mengurangi atau menurunkan populasi vektor dan binatang pengganggu tersebut ke suatu tingkat yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia.
Dalam menuju Indonesia sehat tahun 2020 dan untuk mewujudkan kualitas dan kuantitas lingkungan yang bersih dan sehat serta untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesepakatan umum dari tujuan nasional, sangat diperlukan pengendalian vektor penyakit.
B. Rumusan Masalah
1. Apa  itu pengendalian vektor
2. Mengapa dilakukan upaya pengendalian vektor
3. Metode apa saja yang dilakukan dalam pengendalian vektor
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu pengendalian vektor
2. Untuk mengetahui mengapa dilakukan upaya pengendalian vektor
3. Untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan dalam pengendalian vektor
D. Manfaat
Agar mahasiswa dapat mengetahui mengapa dilakukan upaya pengendalian vektor dan metode apa saja yang dilakukan dalam pengendalian vektor.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Vektor
1. Pengertian Vektor
Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Vektor   adalah   organisme   yang  tidak  menyebabkan   penyakit   tetapi  menyebarkannya dengan membawa patogen dari satu inang ke yang lain. Vektor dapat menyebarkan agen dari manusia atau hewan yang terinfeksi ke manusia atau hewanlain yang rentan melalui kotoran, gigitan, dancairan tubuhnya, atau secara tidak langsung melalui kontaminasi pada  makanan.Vektor dapat  memindahkan  atau menularkan  agent penyakit yang berada didalam atau pun yang menempel dan terdapat di bagian luar tubuh vektor tersebut. Suatu   makhluk   hidup terutama  manusia   dapat   tertular   penyakit   melalui   vector yang membawa agent penyakit, misalnya dengan menggigit dan menghisap darah dari orang yang sakit lalu kepada orang yang rentan, sehingga ia pun dapat tertular dan menjadi sakit.
Keberadaan vektor dan binatang penggangu tersebut harus di tanggulangi, sekalipun demikian tidak mungkin membasmi sampai keakar-akarnya melainkan kita hanya mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasinya kesatu tingkat tertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia. Dalam hal ini untuk dilakukan pengendalian dengan arti kegiatan-kegiatan/proses pelaksanaan yang bertujuan untuk menurunkan densitas populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan. Jadi Pengendalian vektor adalah semua upaya yang dilakukan untuk menekan, mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak  membahayakan kehidupan manusia.

2. Penularan Penyakit
Mekanisme penularan penyakit oleh vektor terbagi dua macam, yaitu penularan penyakit oleh vektor secara mekanik dan penularan penyakit oleh vektor secara biologis.
a. Penularan Penyakit Oleh Vektor Secara Mekanik
Penularan mekanik berlangsung karena kuman penyakit terbawa dengan perantaraan alat-alat tubuh vektor. Kuman penyakit dalam tubuh serangga  tidak bertambah banyak ataupun berubah bentuk. Pada penularan penyakit melalui  vektor secara mekanik, maka agen dapat berasal dari tinja, urine  maupun  sputum (dahak) penderita hanya melekat  pada bagian tubuh vektor  dan  kemudian dapat   dipindahkan   pada   makanan   atau   minuman   pada   waktu  hinggap/menyerap   makanan tersebut. Contoh :
Lalat Tabanus melalui probosisnya menularkan basil Anthrax danTrypanosoma evansi.
Lalat   rumah (Musca  domestica) dengan  perantara kaki  dan badannya,mularkan  telurcacing  dan bakteri.

b. Penularan Penyakit Oleh Vektor Secara Biologi
Penularan biologis berlangsung dengan bertindak sebagai tuan rumah (host), berarti adanya kelanjutan hidup kuman penyakit  yang dipindahkan. Penularan penyakit melalui vektor  secara biologis, agen harus masuk kedalam tubuh vektor melalui gigitan ataupun melalui keturunannya. Selama dalam tubuh vektor, agen berkembang biak atau hanya mengalami perubahan morfologis saja, sampai pada akhirnya   menjadi   bentuk  yang infektif melalui gigitan,  tinja   atau  cara lainuntuk   berpindah   ke   pejamu potensial.   Pada   penularan   penyakit   melalui   vektor   secarabiologis,perubahan bentuk atau perkembangbiakan agen dibedakan sebagai berikut:
a. Propagative transmission
Agen berkembang biak di dalam tubuh vektor tanpa mengalamiperubahan stadium.
Contoh :
Yersinia pestis (agen pes) di dalam tubuh pinjal (flea) Xenopsyllacheopis. Pinjal sebagaivektor bisa mati oleh Yersinia pestis.
b. Cyclo propagative transmission
Agen mengalami perubahan stadium dan perkembangbiakan didalam tubuh vector.
Contoh :
Plasmodium (agen malaria) di dalam tubuh nyamuk  Anopheles.
c. Cyclo developmental transmission
Agen mengalami  perubahan  stadium hingga   mencapai stadiuminfektif  di  dalam tubuhvektor tetapi tidak mengalamiperkembangbiakan.
Contoh :
Cacing  filaria di  dalam tubuh  nyamuk dengan  genus Mansonia  danAnopheles, sertaspesies nyamuk Culex quinquefasciatus.
d. Transovarian/Hereditary (keturunan)
Generasi yang terkena infeksi tidak menularkan penyakit padamanusia, tetapi menularkan pada anaknya.Penularan terjadi melalui generasi berikutnya.
Contoh:
Penyakit   Scrub   thypus   yang   disebabkan   oleh   Ricketsiatsutsugamushi   dari   tikusTrombicula akamushi (sejenis tungau atau mites).
3. Penyakit Yang Disebabkan Oleh Vektor
a) Nyamuk (Mosquito)
Nyamuk adalah vektor mekanis atau vektor siklik penyakit pada manusia dan hewan yangdisebabkan   oleh  parasit   dan   virus,  nyamuk   dari  genus   Psorophora   dan   Janthinosoma   yangterbang   dan   menggigit   pada   siang   hari,   membawa   telur   dari   lalat   Dermatobia   hominis  danmenyebabkan myiasis pada kulit manusia atau ke mamalia lain. Species yang merupakan vektorpenting penyebab penyakit pada manusia antara lain penyakit :
a. Malaria
Vektor  siklik   satu-satunya dari   malaria   pada   manusia dan   malaria  kera  adalah   nyamuk Anopheles, sedangkan nyamuk Anopheles dan Culex kedua-duanya dapat menyebabkan malaria pada burung.
Secara   praktis   tiap  species  Anopheles   dapat   diinfeksi   secara  eksperimen,   tetapi   banyakspecies bukan vektor alami.Sekitar 110 species pernah dihubungkan dengan penularan malaria,diantaranya 50 species penting terdapat dimana-mana atau setempat   yang   dapat   menularkan penyakit malaria.
Sifat suatu species yang dapat menularkan penyakit ditentukan oleh :
Adanya di dalam atau di dekat tempat hidup manusia.
Lebih menyukai darah manusia dari  pada  darah hewan, walaupun bila hewan hanyasedikit.
Lingkungan yang menguntungkan perkembangan dan memberikan jangka hidup cukuplama pada Plasmodium untuk menyelesaikan siklus hidupnya.
Kerentanan fisiologi nyamuk terhadap parasit .
Untuk menentukan  apakah  suatu species  adalah suatu  vektor yang  sesuai,  maka dapatdicatat   persentase   nyamuk  yang   kena   infeksi   setelah   menghisap   darah   penderita   malaria,prnentuan suatu  species  nyamuk sebagai  vektor dapat dipastikan  dengan melihat  daftar  indexinfeksi alami, biasanya sekitar 1-5%, pada nyamuk betina yang dikumpulkan dari rumah-rumahdi daerah yang diserang malaria.
b. Filariasis
Nyamuk   Culex  adalah  vektor   dari  penyakit  filariasis   Wuchereria   bancrofti   dan   Brugiamalayi.Banyak species Anopheles, Aedes, Culex dan Mansonia, tetapi kebanyakan dari speciesini  tidak penting sebagai vektor alami.  Di daerah tropis dan subtropis, Culex  quinquefasciatus(fatigans), nyamuk penggigit di lingkungan  rumah dan kota,  yang berkembang biak dalam airsetengah kotor sekitar tempat tinggal manusia, adalah vektor umum dari filariasis bancrofti yangmempunyai periodisitas nokturnal. Aedes polynesiensis adalah vektor umum filariasis bancrofti yang non periodisitas di beberapa kepulauan Pasifik Selatan . Nyamuk ini hidup diluar kota disemak-semak (tidak pernah dalam rumah) dan berkembang biak di dalam tempurung kelapa danlubang   pohon,  mengisap   darah  dari   binatang   peliharaan  mamalia   dan   unggas,   tetapi  lebihmenyukai darah manusia.
c. Demam Kuning
Demam kuning  (Yellow  Fever) penyakit virus yang  mempunyai angka  kematian  tinggi, telahmenyebar dari tempat asalnya dari Afrika Barat ke daerah tropis dan subtropis lainnya di dunia,Nyamuk yang menggigit pada   penderita   dalam waktu tiga hari   pertama   masa  sakitnya akanmenjadi infektif selama hidupnya setelah virusnya menjalani masa multifikasi selama 12 hari. Vektor penyakit ini adalah species nyamuk dari  genus Aedes dan Haemagogus, Aedesaegypti   adalah   vektor  utama   demam  kuning  epidemik,   hidup   disekitar   daerah   perumahan,berkembang biak dalam berbagai macam tempat penampungan air sekitar rumah, larva tumbuhsubur   sebagai   pemakan   zat   organik  yang   terdapat   didasar penampungan  air   bersih   (bottomfeeders) atau air kotor yang mengandung zat organik.
d. Dengue Hemorrhagic Fever
Dengue Hemorrhagic Fever  adalah penykit  endemik  yang disebabkan   oleh virus  di  daerah tropis   dan subtropis  yangkadang-kadang   menjadi   epidemik.Virus   membutuhkan   masa   multifikasi   selama   8-10   harisebelum   nyamuk   menjadi   infektif,   khususnya   ditularkan   oleh   species   Aedes,  terutama   A.aegypti. Penyakit   ini   merupakan   penyakit   endemis   di   Indonesia   dan   terjadi   sepanjang   tahunterutama pada saat musim penghujan.
b) Lalat
a. Lalat Rumah (Housefly)
Lalat   rumah,   Musca   domestica,   hidup   disekitar   tempat   kediaman   manusia   di   seluruhdunia.Seluruh lingkaran hidup berlangsung 10 sampai 14 hari, dan lalat dewasa hidup kira-kira satu bulan. Larvanya kadang-kadang menyebabkan myasis usus dan saluran kencing serta saluran kelamin.
Lalat adalah vektor mekanik  dari   bakteri   patogen,  protozoa serta telur  dan   larva   cacing,Luasnya   penularan   penyakit   oleh   lalat   di   alam   sukar   ditentukan.Dianggap   sebagai   vektorpenyakit   typhus   abdominalis,   salmonellosis,   cholera,   dysentery   bacillary   dan   amoeba,tuberculosis, penyakit  sampar,  tularemia, anthrax,  frambusia, conjunctivitis,  demam undulans,trypanosomiasis dan penyakit spirochaeta.
b. Lalat Pasir (Sandfly)
Lalat   pasir   ialah   vektor   penyakit   leishmaniasis,   demam   papataci   dan bartonellosisi. Leishmania donovani, penyebab Kala azar; L. tropica, penyebab oriental sore; danL. braziliensis, penyebab leishmaniasis Amerika, ditularkan oleh Phlebotomus. Demam papataciatau   demam  phlebotomus,  penyakit   yang   disebabkan  oleh  virus   banyak   terdapat  di  daerah Mediterania dan Asia Selatan, terutama ditularkan oleh P. papatsii, yang menjadi infektif setelah masa perkembangan  virus selama 7-10 hari. Bartonellosis juga terdapat di Amerika   Selatan bagian Barat  Laut  sebagai demam   akut penyakit  Carrion  dan sebagai   keadaan kronis  berupa granulema verrucosa. Basil penyebab adalah Bartonella bacilliformis, ditularkan oleh lalat pasiryang hidup di daerah pegunungan Andes.
c. Lalat Tsetse (Tsetse Flies)
Lalat   tsetse   adalah   vektor   penting  penyakit   trypanosomiasis   pada   manusia   dan   hewanpeliharaan.Paling   sedikit   ada   tujuh   species   sebagai   vektor   infeksi   trypanosoma   pada   hewanpeliharaan, species Trypanosoma rhodesiense yang menjadi, penyebab trypanosomiasis, adalah Glossina   morsitans,  G.  swynnertoni,   dan  G.   Pallidipes.Vektor   utama pada  Penyakit   Tidur (Sleeping Sickness)   di Gambia  adalah species  G. palpalis  fuscipes dan  pada daerah-daerah tertentu adalah species G. tachhinoides.
d. Lalat Hitam (Blackflies)
Lalat hitam adalah vektor penyakit Oncheocerciasis Di Afrika adalah species Simulium damnosum danS. neavei  dan di Amerika  adalah  S. metallicum,  S. ochraceum  dan S.  callidum.  Species lainmungkin   adalah   vektor   yang   tidak   penting   dan   menularkan   onchocerciasis   pada   ternak   danpenyakit protozoa pada burung.
c) Tuma Kepala, Tuma badan, dan Tuma Kemaluan (Head Lice, Body Lice, and Crab Lice)
Tuma badan adalah vektor epidemic typhus, epidemic relapsing fever di Eropa dan Amerika Latin. Tuma   mendapat   infeksi   dari   Reckettsia   prowazeki,   bila   menghisap   darah   penderita. Rickettsia  berkembang biak dalam epitel lambung tengah tuma dan dikeluarkan bersama tinja. Tuma tetap infektif selama hidupnya. Manusia biasanya mendapat infeksi karena kontaminasi pada luka gigitan, kulit yang lecet atau mukosa dengan tinja atau badan tuma yang terkoyak bila oleh spirochaeta Borrelia recurrentis, penyebab epidemic relapsing fever di  Eropa,  spirochaeta akan berkembang  biak  di seluruh   tubuh tuma,  yang  tetap infektif   selama hidupnya,.  Demam parit, suatu penyakit yang disebabkan oleh Rickettsia juga ditularkan oleh tuma tetapi tidak fatal,pernah   berjangkit   sebagai   penyakit   epidemik   selama   Peran   Dunia   pertama   dan   kemudianmenjadi endemik di Eropa dan Mexico.
d) Pinjal (Fleas)
Pinjal   adalah  serangga   yang termasuk   ordo  siphonatera.   Pinjal  merupakan   seranggaparasit   yang   umumnya   ditemukan   pada   hewan   namun   terkadang   juga   pada   manusia.   Pinjalmenghisap darah dari inang yang ditumpanginya. Saat pinjal menggigit kulit inangnya, air ludahpinjal akan ikut masuk ke dalam jaringan kulit dan menyebabkan radang serta alergi. Selain itu,kotoran pinjal juga dapat menyebabkan penyakit Rickettsia jika masuk kedalam luka gigitannya.Pinjal hanya penting dalam dunia  kedokteran   terutama   yang   berhubungan  dengan penularanpenyakit   sampar   dan   endemic   typhus.  Pinjal   dapat   juga   bertindak   sebagai   hospes   perantaraparasit.
e) Tungau (Mites)
Tungau adalah   vektor   pada   penyakit   tsutsugamushi   atau   scrub   typhus   yang   disebabkan   olehRickettsia tsutsugamushi, tungau mengigit manusia menyebabkan luka bernanah disertai demamyang remiten, lymphadenitis, splenomegaly dan suatu eritema yang merah sekali.
Vektor   utamanya  adalah   Trombicula   akamushi  dan   T.   deliensis,  tungau   menularkanpenyakit pada stadium larva sedangkan larvanya adalah parasit pada tikus ladang di Jepang danbeberapa  tikus  rumah dan tikus lading di Taiwan dan di Indonesia.Manusia merupakan hospessecara kebetulan, larvanya melekatkan diri pada pekerja di ladang.Penyakit ini dapat ditularkandari   generasi   ke   generasi,   sehingga   larva   generasi   kedua   mampu   menginfeksi   manusia.

B. Pengendalian Vektor
Ada beberapa   cara pengendalian  vektor dan  binatang  pengganggu  diantaranya  adalah sebagai berikut :
1. Pengendalian Secara Kimiawi
Cara ini  lebih  mengutamakan penggunaan   pestisida/rodentisida untuk peracunan.   Penggunaan racun untuk  memberantas  vektor lebih  efektif  namun berdampak masalah  gangguan  kesehatan karena penyebaran racun  tersebut menimbulkan  keracunan bagi  petugas  penyemprot maupun  masyarakat dan hewan peliharaan.  Sebagai  ilustrasi, pada  tahun 1960-an   yang menjadi  titik  tolak kegiatan   kesehatan secara   nasional  (juga  merupakan   tanggal  ditetapkannya   Hari   Kesehatan  Nasional),  ditandai   dengan dimulainya kegiatan pemberantasan vektor nyamuk menggunakan bahan kimia DDT atau Dieldrin untuk seluruh   rumah penduduk pedesaan. Hasilnya sangat baik karena terjadi  penurunan   densitas   nyamuksecara drastis, namun efek sampingnya sungguh luar biasa karena bukan hanya nyamuk saja yang  matimelainkan cicak juga ikut  mati keracunan (karena memakan  nyamuk yang keracunan), cecak  tersebutdimakan kucing dan ayam, kemudian kucing dan ayam tersebut keracunan dan mati, bahkan manusia jugsterjadi keracunan Karena menghirup atau kontak dengan bahan kimia tersebut melalui makanan tercemaratau makan ayam yang keracunan.
Selain   itu  penggunaan   DDT/Dieldrin   ini  menimbulkan   efek  kekebalan  tubuh   pada  nyamuk sehingga pada penyemprotan selanjutnya tidak banyak artinya. Selanjutnya bahan kimia tersebut dilarang digunakan. Penggunaan  bahan kimia   pemberantas serangga   tidak lagi   digunakan secara  massal, yangmasih dgunakan  secra  individual sampai  saat  ini adalah  jenis Propoxur  (Baygon).  Pyrethrin atau  dariekstrak tumbuhan/bunga-bungaan.
Untuk   memberantas   Nyamuk   Aedes   secara   missal   dilakukan   fogging   bahan   kimia   jenisMalathion/Parathion, untuk jentik nyamuk Aedes digunakan bahan larvasida jenis Abate yang dilarutkandalam   air.  Cara kimia  untuk  membunuh  tikus  dengan  menggunakan  bahan  racun   arsenic   dan   asamsianida. Arsenik dicampur  dalam  umpan sedangkan sianida biasa dilakukan pada gudang-gudang besartanpa mencemai  makanan  atau minuman,  juga  dilakukan pada  kapal laut  yang  dikenal dengan  istilah fumigasi. Penggunaan kedua jenis  racun ini harus sangat  berhati-hati dan harus  menggunakan  masker karena sangat toksik terhadap tubuh manusia khususnya melalui saluran pernafasan.
Penggunaan   bahan  kimia   lainnya   yang tidak   begitu  berbahaya  adalah   bahan  attractant   dan repellent. Bahan Attractant adalah bahan kimia umpan untuk menarik serangga atau tikus masuk dalam perangkap.   Sedangkan   repellent   adalah  bahan/cara untuk   mengusir   serangga   atau tikus  tidak   untuk membunuh. Contohnya  bahan kimia  penolak  nyamuk  yang  dioleskan ke   tubuh manusia   (Autan, SariPuspa, dll) atau alat yang menimbulkan getaran ultrasonic untuk mengusir tikus (fisika).
Pada  pendekatan   ini,   dilakukan   beberapa   golongan  insektisida   seperti   golongan   organoklorin,golongan organofosfat, dan golongan karbamat. Namun, penggunaan insektisida ini sering menimbulkan resistensi dan juga kontaminasi pada lingkungan. Macam – macam insektisida yang digunakan:
Mineral (Minyak), misalnya minyak tanah, boraks, solar, dsb.
Botanical   (Tumbuhan),   misalnya  Pyrethum,   Rotenone,  Allethrin,   dsb.  Insektisida   botanical   ini disukai karena tidak menimbulkan masalah residu yang toksis.
Chlorined Hyrocarbon, misalnya DDT, BHC, Lindane, Chlordane, Dieldrin, dll. Tetapi penggunaaninsektisida ini telah dibatasi karena resistensinya dan dapat mengkontaminasi lingkungan.
Organophosphate,   misalnya   Abate,   Malathion,   Chlorphyrifos,   dsb.   Umumnya   menggantikanChlorined   Hydrocarbon   karena   dapat   melawan   vektor   yang   resisten   dan   tidak   mencemari lingkungan.
Carbamate,   misalnya   Propoxur,   Carbaryl,   Dimetilen,   Landrin,   dll.   Merupakan   suplemen   bagiOrganophosphate.
Fumigant,  misalnya Nophtalene, HCN, Methylbromide, dsb. Adalah bahan kimia  mudah menguapdan uapnya masuk ke tubuh vektor melalui pori pernapasan dan melalui permukaan tanah.
Repelent, misalnya diethyl toluemide. Adalah bahan yang menerbitkan bau yang menolak serangga,dipakaikan pada  kulit  yang terpapar, tidak  membunuh  serangga  tetapi   memberikan perlindunganpada manusia.
2. Pengendalian Fisika-Mekanika
Cara  ini menitikberatkan  kepada  pemanfaatan iklim/musim dan  menggunakan  alat penangkap mekanis antara lain :
Pemasangan perangkap tikus atau perangkap serangga
Pemasangan jaring
Pemanfaatan sinar/cahaya untuk menarik atau menolak (to attrack and to repeal)
Pemanfaatan kondisi panas dan dingin untuk membunuh vektor dan binatang penganggu.
Pemanfaatan kondisi musim/iklim untuk memberantas jentik nyamuk.
Pemanfaatan suara untuk menarik atau menolak vektor dan binatang pengganggu.
Pembunuhan vektor dan binatang pengganggu menggunakan alat pembunuh (pemukul,  jepretandengan umpan, dll)
Pengasapan   menggunakan   belerang   untuk   mengeluarkan   tikus   dari   sarangnya   sekaligusperacunan.
Pembalikan tanah sebelum ditanami.
Pemanfaatan arus listrik  dengan  umpan atau  attracktant untuk membunuh  vektor dan  binatangpengganggu (perangkap serangga dengan listrik daya penarik menggunakan lampu neon).
3. Pengendalian Lingkungan
Merupakan   cara   terbaik   untuk   mengontrol   arthropoda   karena   hasilnya   dapat   bersifat permanen. Contoh, membersihkan tempat-tempat hidup arthropoda. Terbagi atas dua cara yaitu :
Perubahan lingkungan  hidup (environmental  management), sehingga  vektor  dan binatang penggangu tidak mungkin hidup. Seperti penimbunan (filling), pengeringan (draining), dan pembuatan (dyking).
Manipulasi lingkungan hidup (environmental manipulation), sehingga tidak memungkinkan vektor dan binatang penggangu berkembang dengan baik. Seperti pengubahan kadar garam(solinity), pembersihan tanaman air, lumut, dan penanaman pohon bakau (mangrouves) pada tempat perkembang biakan nyamuk.
4. Pengendalian Genetik
Metode ini dimaksudkan untuk mengurangi populasi vektor dan binatang penggangu melalui teknik-teknik   pemandulan   vektor   jantan   (sterila   male   techniques),   pengunaan   bahan   kimiapenghambat pembiakan  (chemosterilant),  dan penghilangan   (hybiriditazion). Masih  ada   usaha yang lain seperti :
Perbaikan sanitasi  :  bertujuan menghilangkan  sumber-sumber  makanan(food preferences),tempat perindukan (breeding  places), dan tempat  tinggal (resting paces),  yang dibutuhkanvektor.
Peraturan   perundangan   :   mengatur   permasalahan   yang   menyangkut   usaha   karantina,pengawasan impor-ekspor, pemusnahan bahan makanan atau produk yang telah rusak karenavektor dan sebagainya.
Pencegahan (prevention)  : menjaga  populasi  vektor  dan  binatang pengganggu  tetap padasuatu tingkat tertentu dan tidak menimbulkan masalah.
Penekanan (supresion) : menekan dan mengurangi tingkat populasinya.
Pembasmian (eradication) : membasmi dan memusnakan vektor dan binatang penggangguyang menyerang daerah/wilayah tertentu secara keseluruhan.
5. Upaya Pengendalian Binatang Pengganggu
Dalam pendekatan  ini  ada  beberapa  teknik  yang  dapat  digunakan,  diantaranya  steril  technique,citoplasmic incompatibility,   dan  choromosom translocation. Upaya  pencegahan yang  dapat   dilakukan adalah :
Menempatkan kandang ternak di luar rumah
Merekonstruksi rumah
Membuat ventilasi
Melapisi lantai dengan semen
Melapor ke puskesmas bila banyak tikus yang mati
Mengatur ketinggian tempat tidur setidaknya >20 cm dari lantai.
















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini, yaitu :
1. Pengendalian vektor adalah semua upaya yang dilakukan untuk menekan, mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak  membahayakan kehidupan manusia.
2. Pengendalian vektor dilakukan bertujuan untuk menurunkan populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan. Pengendalian vektor juga dilakukan untuk meminimalisir dan memutus rantai penyebaran penyakit.
3. Adapun upaya yang dilakukan dalam pengendalian vektor yaitu : pengendalian secara kimiawi, pengendalian secara fisika-mekanik, pengendalian secara genetika, pengendalian lingkungan, dan upaya pengendalian binatang pengganggu.
B. Saran
Untuk mewujudkan kualitas dan kuantitas lingkungan yang bersih dan sehat sangat diperlukan pengetahuan yang cukup serta mendalam tentang vektor penyakit dan pengendalian vektor penyakit, sehingga kita dapat meminimalisir dan memutus rantai penyebaran penyakit.


















DAFTAR PUSTAKA

Allina, Dwi. 2015. Makalah Pengendalian Vektor. https://www.academia.edu/12359655/MAKALAH_PENGENDALIAN_VEKTOR_Disusun_untuk_Memenuhi_Tugas (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Nagan, Peujroh. 2010. Makalah pengendalian vektor penyakit. https://peujrohnagan.blogspot.com/2010/12/makalah-pengendalian-vektor-penyakit.html?m=1 (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Wati, Nopia. 2019. Pengendalian Vektor. https://www.researchgate.net/publication/33059820_BAB_I_PENDAHULUAN_11_LATAR_BELAKANG (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Wikipedia. 2019. Vektor (Biologi). https://id.m.wikipedia.org/wiki/Vektor_(biologi) (diakses pada tanggal 2 April 2020)

Komentar