KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat serta hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan sebuah makalah tentang ‘‘Pengendalian Vektor Dan Tikus’’.
Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengendalian Vektor Dan Tikus. Selain itu, untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas mengenai cara pengendalian vektor.
Saya menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena ini saya sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Makassar, 3 April 2020
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Tujuan..........................................................................................................1
C. Manfaat........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Vektor Tikus................................................................................................2
1. Pengertian Vektor..................................................................................2
2. Penularan Penyakit................................................................................2
3. Penyakit Yang Disebabkan Oleh Vektor..............................................4
B. Pengendalian Vektor Tikus.........................................................................8
1. Pengendalian Secara Kimiawi...............................................................8
2. Pengendalian Secara Fisika-Mekanik..................................................10
3. Pengendalian Lingkungan ...................................................................11
4. Pengendalian Genetik...........................................................................11
5. Upaya Pengendalian Binatang Pengganggu.........................................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................13
B. Saran...........................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberadaan vektor dan binatang pengganggu di lingkungan kehidupan manusia sudah dimulai sejak pertama kali manusia menciptakan tempat untuk bermukim. Bangunan tempat tinggal manusia memberikan tempat pula bagi berbagai vektor dan binatang pengganggu untuk berlindung, memperoleh makanan dan berkembang biak. Dengan kondisi lingkungan yang relatif tidak ekstrim dan bebas dari musuh-musuh alaminya serta tercukupinya kebutuhan makanan, maka populasi vektor dan binatang pengganggu itu dapat terus meningkat sedemikian rupa sehingga menimbulkan masalah kesehatan manusia.
Vektor dan binatang pengganggu dapat merugikan manusia, merusak lingkungan hidup manusia dan pada gilirannya akan mengganggu kesejahteraan hidup manusia, oleh karena itu keberadaan vektor dan binatang pengganggu tersebut harus dikendalikan. Pengendalian vektor dan binatang pengganggu adalah suatu upaya untuk mengurangi atau menurunkan populasi vektor dan binatang pengganggu tersebut ke suatu tingkat yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia.
Dalam menuju Indonesia sehat tahun 2020 dan untuk mewujudkan kualitas dan kuantitas lingkungan yang bersih dan sehat serta untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesepakatan umum dari tujuan nasional, sangat diperlukan pengendalian vektor penyakit.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pengendalian vektor
2. Mengapa dilakukan upaya pengendalian vektor
3. Metode apa saja yang dilakukan dalam pengendalian vektor
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu pengendalian vektor
2. Untuk mengetahui mengapa dilakukan upaya pengendalian vektor
3. Untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan dalam pengendalian vektor
D. Manfaat
Agar mahasiswa dapat mengetahui mengapa dilakukan upaya pengendalian vektor dan metode apa saja yang dilakukan dalam pengendalian vektor.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Vektor
1. Pengertian Vektor
Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Vektor adalah organisme yang tidak menyebabkan penyakit tetapi menyebarkannya dengan membawa patogen dari satu inang ke yang lain. Vektor dapat menyebarkan agen dari manusia atau hewan yang terinfeksi ke manusia atau hewanlain yang rentan melalui kotoran, gigitan, dancairan tubuhnya, atau secara tidak langsung melalui kontaminasi pada makanan.Vektor dapat memindahkan atau menularkan agent penyakit yang berada didalam atau pun yang menempel dan terdapat di bagian luar tubuh vektor tersebut. Suatu makhluk hidup terutama manusia dapat tertular penyakit melalui vector yang membawa agent penyakit, misalnya dengan menggigit dan menghisap darah dari orang yang sakit lalu kepada orang yang rentan, sehingga ia pun dapat tertular dan menjadi sakit.
Keberadaan vektor dan binatang penggangu tersebut harus di tanggulangi, sekalipun demikian tidak mungkin membasmi sampai keakar-akarnya melainkan kita hanya mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasinya kesatu tingkat tertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia. Dalam hal ini untuk dilakukan pengendalian dengan arti kegiatan-kegiatan/proses pelaksanaan yang bertujuan untuk menurunkan densitas populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan. Jadi Pengendalian vektor adalah semua upaya yang dilakukan untuk menekan, mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak membahayakan kehidupan manusia.
2. Penularan Penyakit
Mekanisme penularan penyakit oleh vektor terbagi dua macam, yaitu penularan penyakit oleh vektor secara mekanik dan penularan penyakit oleh vektor secara biologis.
a. Penularan Penyakit Oleh Vektor Secara Mekanik
Penularan mekanik berlangsung karena kuman penyakit terbawa dengan perantaraan alat-alat tubuh vektor. Kuman penyakit dalam tubuh serangga tidak bertambah banyak ataupun berubah bentuk. Pada penularan penyakit melalui vektor secara mekanik, maka agen dapat berasal dari tinja, urine maupun sputum (dahak) penderita hanya melekat pada bagian tubuh vektor dan kemudian dapat dipindahkan pada makanan atau minuman pada waktu hinggap/menyerap makanan tersebut. Contoh :
• Lalat Tabanus melalui probosisnya menularkan basil Anthrax danTrypanosoma evansi.
• Lalat rumah (Musca domestica) dengan perantara kaki dan badannya,mularkan telurcacing dan bakteri.
b. Penularan Penyakit Oleh Vektor Secara Biologi
Penularan biologis berlangsung dengan bertindak sebagai tuan rumah (host), berarti adanya kelanjutan hidup kuman penyakit yang dipindahkan. Penularan penyakit melalui vektor secara biologis, agen harus masuk kedalam tubuh vektor melalui gigitan ataupun melalui keturunannya. Selama dalam tubuh vektor, agen berkembang biak atau hanya mengalami perubahan morfologis saja, sampai pada akhirnya menjadi bentuk yang infektif melalui gigitan, tinja atau cara lainuntuk berpindah ke pejamu potensial. Pada penularan penyakit melalui vektor secarabiologis,perubahan bentuk atau perkembangbiakan agen dibedakan sebagai berikut:
a. Propagative transmission
Agen berkembang biak di dalam tubuh vektor tanpa mengalamiperubahan stadium.
Contoh :
• Yersinia pestis (agen pes) di dalam tubuh pinjal (flea) Xenopsyllacheopis. Pinjal sebagaivektor bisa mati oleh Yersinia pestis.
b. Cyclo propagative transmission
Agen mengalami perubahan stadium dan perkembangbiakan didalam tubuh vector.
Contoh :
• Plasmodium (agen malaria) di dalam tubuh nyamuk Anopheles.
c. Cyclo developmental transmission
Agen mengalami perubahan stadium hingga mencapai stadiuminfektif di dalam tubuhvektor tetapi tidak mengalamiperkembangbiakan.
Contoh :
• Cacing filaria di dalam tubuh nyamuk dengan genus Mansonia danAnopheles, sertaspesies nyamuk Culex quinquefasciatus.
d. Transovarian/Hereditary (keturunan)
Generasi yang terkena infeksi tidak menularkan penyakit padamanusia, tetapi menularkan pada anaknya.Penularan terjadi melalui generasi berikutnya.
Contoh:
• Penyakit Scrub thypus yang disebabkan oleh Ricketsiatsutsugamushi dari tikusTrombicula akamushi (sejenis tungau atau mites).
3. Penyakit Yang Disebabkan Oleh Vektor
a) Nyamuk (Mosquito)
Nyamuk adalah vektor mekanis atau vektor siklik penyakit pada manusia dan hewan yangdisebabkan oleh parasit dan virus, nyamuk dari genus Psorophora dan Janthinosoma yangterbang dan menggigit pada siang hari, membawa telur dari lalat Dermatobia hominis danmenyebabkan myiasis pada kulit manusia atau ke mamalia lain. Species yang merupakan vektorpenting penyebab penyakit pada manusia antara lain penyakit :
a. Malaria
Vektor siklik satu-satunya dari malaria pada manusia dan malaria kera adalah nyamuk Anopheles, sedangkan nyamuk Anopheles dan Culex kedua-duanya dapat menyebabkan malaria pada burung.
Secara praktis tiap species Anopheles dapat diinfeksi secara eksperimen, tetapi banyakspecies bukan vektor alami.Sekitar 110 species pernah dihubungkan dengan penularan malaria,diantaranya 50 species penting terdapat dimana-mana atau setempat yang dapat menularkan penyakit malaria.
Sifat suatu species yang dapat menularkan penyakit ditentukan oleh :
• Adanya di dalam atau di dekat tempat hidup manusia.
• Lebih menyukai darah manusia dari pada darah hewan, walaupun bila hewan hanyasedikit.
• Lingkungan yang menguntungkan perkembangan dan memberikan jangka hidup cukuplama pada Plasmodium untuk menyelesaikan siklus hidupnya.
• Kerentanan fisiologi nyamuk terhadap parasit .
Untuk menentukan apakah suatu species adalah suatu vektor yang sesuai, maka dapatdicatat persentase nyamuk yang kena infeksi setelah menghisap darah penderita malaria,prnentuan suatu species nyamuk sebagai vektor dapat dipastikan dengan melihat daftar indexinfeksi alami, biasanya sekitar 1-5%, pada nyamuk betina yang dikumpulkan dari rumah-rumahdi daerah yang diserang malaria.
b. Filariasis
Nyamuk Culex adalah vektor dari penyakit filariasis Wuchereria bancrofti dan Brugiamalayi.Banyak species Anopheles, Aedes, Culex dan Mansonia, tetapi kebanyakan dari speciesini tidak penting sebagai vektor alami. Di daerah tropis dan subtropis, Culex quinquefasciatus(fatigans), nyamuk penggigit di lingkungan rumah dan kota, yang berkembang biak dalam airsetengah kotor sekitar tempat tinggal manusia, adalah vektor umum dari filariasis bancrofti yangmempunyai periodisitas nokturnal. Aedes polynesiensis adalah vektor umum filariasis bancrofti yang non periodisitas di beberapa kepulauan Pasifik Selatan . Nyamuk ini hidup diluar kota disemak-semak (tidak pernah dalam rumah) dan berkembang biak di dalam tempurung kelapa danlubang pohon, mengisap darah dari binatang peliharaan mamalia dan unggas, tetapi lebihmenyukai darah manusia.
c. Demam Kuning
Demam kuning (Yellow Fever) penyakit virus yang mempunyai angka kematian tinggi, telahmenyebar dari tempat asalnya dari Afrika Barat ke daerah tropis dan subtropis lainnya di dunia,Nyamuk yang menggigit pada penderita dalam waktu tiga hari pertama masa sakitnya akanmenjadi infektif selama hidupnya setelah virusnya menjalani masa multifikasi selama 12 hari. Vektor penyakit ini adalah species nyamuk dari genus Aedes dan Haemagogus, Aedesaegypti adalah vektor utama demam kuning epidemik, hidup disekitar daerah perumahan,berkembang biak dalam berbagai macam tempat penampungan air sekitar rumah, larva tumbuhsubur sebagai pemakan zat organik yang terdapat didasar penampungan air bersih (bottomfeeders) atau air kotor yang mengandung zat organik.
d. Dengue Hemorrhagic Fever
Dengue Hemorrhagic Fever adalah penykit endemik yang disebabkan oleh virus di daerah tropis dan subtropis yangkadang-kadang menjadi epidemik.Virus membutuhkan masa multifikasi selama 8-10 harisebelum nyamuk menjadi infektif, khususnya ditularkan oleh species Aedes, terutama A.aegypti. Penyakit ini merupakan penyakit endemis di Indonesia dan terjadi sepanjang tahunterutama pada saat musim penghujan.
b) Lalat
a. Lalat Rumah (Housefly)
Lalat rumah, Musca domestica, hidup disekitar tempat kediaman manusia di seluruhdunia.Seluruh lingkaran hidup berlangsung 10 sampai 14 hari, dan lalat dewasa hidup kira-kira satu bulan. Larvanya kadang-kadang menyebabkan myasis usus dan saluran kencing serta saluran kelamin.
Lalat adalah vektor mekanik dari bakteri patogen, protozoa serta telur dan larva cacing,Luasnya penularan penyakit oleh lalat di alam sukar ditentukan.Dianggap sebagai vektorpenyakit typhus abdominalis, salmonellosis, cholera, dysentery bacillary dan amoeba,tuberculosis, penyakit sampar, tularemia, anthrax, frambusia, conjunctivitis, demam undulans,trypanosomiasis dan penyakit spirochaeta.
b. Lalat Pasir (Sandfly)
Lalat pasir ialah vektor penyakit leishmaniasis, demam papataci dan bartonellosisi. Leishmania donovani, penyebab Kala azar; L. tropica, penyebab oriental sore; danL. braziliensis, penyebab leishmaniasis Amerika, ditularkan oleh Phlebotomus. Demam papataciatau demam phlebotomus, penyakit yang disebabkan oleh virus banyak terdapat di daerah Mediterania dan Asia Selatan, terutama ditularkan oleh P. papatsii, yang menjadi infektif setelah masa perkembangan virus selama 7-10 hari. Bartonellosis juga terdapat di Amerika Selatan bagian Barat Laut sebagai demam akut penyakit Carrion dan sebagai keadaan kronis berupa granulema verrucosa. Basil penyebab adalah Bartonella bacilliformis, ditularkan oleh lalat pasiryang hidup di daerah pegunungan Andes.
c. Lalat Tsetse (Tsetse Flies)
Lalat tsetse adalah vektor penting penyakit trypanosomiasis pada manusia dan hewanpeliharaan.Paling sedikit ada tujuh species sebagai vektor infeksi trypanosoma pada hewanpeliharaan, species Trypanosoma rhodesiense yang menjadi, penyebab trypanosomiasis, adalah Glossina morsitans, G. swynnertoni, dan G. Pallidipes.Vektor utama pada Penyakit Tidur (Sleeping Sickness) di Gambia adalah species G. palpalis fuscipes dan pada daerah-daerah tertentu adalah species G. tachhinoides.
d. Lalat Hitam (Blackflies)
Lalat hitam adalah vektor penyakit Oncheocerciasis Di Afrika adalah species Simulium damnosum danS. neavei dan di Amerika adalah S. metallicum, S. ochraceum dan S. callidum. Species lainmungkin adalah vektor yang tidak penting dan menularkan onchocerciasis pada ternak danpenyakit protozoa pada burung.
c) Tuma Kepala, Tuma badan, dan Tuma Kemaluan (Head Lice, Body Lice, and Crab Lice)
Tuma badan adalah vektor epidemic typhus, epidemic relapsing fever di Eropa dan Amerika Latin. Tuma mendapat infeksi dari Reckettsia prowazeki, bila menghisap darah penderita. Rickettsia berkembang biak dalam epitel lambung tengah tuma dan dikeluarkan bersama tinja. Tuma tetap infektif selama hidupnya. Manusia biasanya mendapat infeksi karena kontaminasi pada luka gigitan, kulit yang lecet atau mukosa dengan tinja atau badan tuma yang terkoyak bila oleh spirochaeta Borrelia recurrentis, penyebab epidemic relapsing fever di Eropa, spirochaeta akan berkembang biak di seluruh tubuh tuma, yang tetap infektif selama hidupnya,. Demam parit, suatu penyakit yang disebabkan oleh Rickettsia juga ditularkan oleh tuma tetapi tidak fatal,pernah berjangkit sebagai penyakit epidemik selama Peran Dunia pertama dan kemudianmenjadi endemik di Eropa dan Mexico.
d) Pinjal (Fleas)
Pinjal adalah serangga yang termasuk ordo siphonatera. Pinjal merupakan seranggaparasit yang umumnya ditemukan pada hewan namun terkadang juga pada manusia. Pinjalmenghisap darah dari inang yang ditumpanginya. Saat pinjal menggigit kulit inangnya, air ludahpinjal akan ikut masuk ke dalam jaringan kulit dan menyebabkan radang serta alergi. Selain itu,kotoran pinjal juga dapat menyebabkan penyakit Rickettsia jika masuk kedalam luka gigitannya.Pinjal hanya penting dalam dunia kedokteran terutama yang berhubungan dengan penularanpenyakit sampar dan endemic typhus. Pinjal dapat juga bertindak sebagai hospes perantaraparasit.
e) Tungau (Mites)
Tungau adalah vektor pada penyakit tsutsugamushi atau scrub typhus yang disebabkan olehRickettsia tsutsugamushi, tungau mengigit manusia menyebabkan luka bernanah disertai demamyang remiten, lymphadenitis, splenomegaly dan suatu eritema yang merah sekali.
Vektor utamanya adalah Trombicula akamushi dan T. deliensis, tungau menularkanpenyakit pada stadium larva sedangkan larvanya adalah parasit pada tikus ladang di Jepang danbeberapa tikus rumah dan tikus lading di Taiwan dan di Indonesia.Manusia merupakan hospessecara kebetulan, larvanya melekatkan diri pada pekerja di ladang.Penyakit ini dapat ditularkandari generasi ke generasi, sehingga larva generasi kedua mampu menginfeksi manusia.
B. Pengendalian Vektor
Ada beberapa cara pengendalian vektor dan binatang pengganggu diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Pengendalian Secara Kimiawi
Cara ini lebih mengutamakan penggunaan pestisida/rodentisida untuk peracunan. Penggunaan racun untuk memberantas vektor lebih efektif namun berdampak masalah gangguan kesehatan karena penyebaran racun tersebut menimbulkan keracunan bagi petugas penyemprot maupun masyarakat dan hewan peliharaan. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1960-an yang menjadi titik tolak kegiatan kesehatan secara nasional (juga merupakan tanggal ditetapkannya Hari Kesehatan Nasional), ditandai dengan dimulainya kegiatan pemberantasan vektor nyamuk menggunakan bahan kimia DDT atau Dieldrin untuk seluruh rumah penduduk pedesaan. Hasilnya sangat baik karena terjadi penurunan densitas nyamuksecara drastis, namun efek sampingnya sungguh luar biasa karena bukan hanya nyamuk saja yang matimelainkan cicak juga ikut mati keracunan (karena memakan nyamuk yang keracunan), cecak tersebutdimakan kucing dan ayam, kemudian kucing dan ayam tersebut keracunan dan mati, bahkan manusia jugsterjadi keracunan Karena menghirup atau kontak dengan bahan kimia tersebut melalui makanan tercemaratau makan ayam yang keracunan.
Selain itu penggunaan DDT/Dieldrin ini menimbulkan efek kekebalan tubuh pada nyamuk sehingga pada penyemprotan selanjutnya tidak banyak artinya. Selanjutnya bahan kimia tersebut dilarang digunakan. Penggunaan bahan kimia pemberantas serangga tidak lagi digunakan secara massal, yangmasih dgunakan secra individual sampai saat ini adalah jenis Propoxur (Baygon). Pyrethrin atau dariekstrak tumbuhan/bunga-bungaan.
Untuk memberantas Nyamuk Aedes secara missal dilakukan fogging bahan kimia jenisMalathion/Parathion, untuk jentik nyamuk Aedes digunakan bahan larvasida jenis Abate yang dilarutkandalam air. Cara kimia untuk membunuh tikus dengan menggunakan bahan racun arsenic dan asamsianida. Arsenik dicampur dalam umpan sedangkan sianida biasa dilakukan pada gudang-gudang besartanpa mencemai makanan atau minuman, juga dilakukan pada kapal laut yang dikenal dengan istilah fumigasi. Penggunaan kedua jenis racun ini harus sangat berhati-hati dan harus menggunakan masker karena sangat toksik terhadap tubuh manusia khususnya melalui saluran pernafasan.
Penggunaan bahan kimia lainnya yang tidak begitu berbahaya adalah bahan attractant dan repellent. Bahan Attractant adalah bahan kimia umpan untuk menarik serangga atau tikus masuk dalam perangkap. Sedangkan repellent adalah bahan/cara untuk mengusir serangga atau tikus tidak untuk membunuh. Contohnya bahan kimia penolak nyamuk yang dioleskan ke tubuh manusia (Autan, SariPuspa, dll) atau alat yang menimbulkan getaran ultrasonic untuk mengusir tikus (fisika).
Pada pendekatan ini, dilakukan beberapa golongan insektisida seperti golongan organoklorin,golongan organofosfat, dan golongan karbamat. Namun, penggunaan insektisida ini sering menimbulkan resistensi dan juga kontaminasi pada lingkungan. Macam – macam insektisida yang digunakan:
• Mineral (Minyak), misalnya minyak tanah, boraks, solar, dsb.
• Botanical (Tumbuhan), misalnya Pyrethum, Rotenone, Allethrin, dsb. Insektisida botanical ini disukai karena tidak menimbulkan masalah residu yang toksis.
• Chlorined Hyrocarbon, misalnya DDT, BHC, Lindane, Chlordane, Dieldrin, dll. Tetapi penggunaaninsektisida ini telah dibatasi karena resistensinya dan dapat mengkontaminasi lingkungan.
• Organophosphate, misalnya Abate, Malathion, Chlorphyrifos, dsb. Umumnya menggantikanChlorined Hydrocarbon karena dapat melawan vektor yang resisten dan tidak mencemari lingkungan.
• Carbamate, misalnya Propoxur, Carbaryl, Dimetilen, Landrin, dll. Merupakan suplemen bagiOrganophosphate.
• Fumigant, misalnya Nophtalene, HCN, Methylbromide, dsb. Adalah bahan kimia mudah menguapdan uapnya masuk ke tubuh vektor melalui pori pernapasan dan melalui permukaan tanah.
• Repelent, misalnya diethyl toluemide. Adalah bahan yang menerbitkan bau yang menolak serangga,dipakaikan pada kulit yang terpapar, tidak membunuh serangga tetapi memberikan perlindunganpada manusia.
2. Pengendalian Fisika-Mekanika
Cara ini menitikberatkan kepada pemanfaatan iklim/musim dan menggunakan alat penangkap mekanis antara lain :
• Pemasangan perangkap tikus atau perangkap serangga
• Pemasangan jaring
• Pemanfaatan sinar/cahaya untuk menarik atau menolak (to attrack and to repeal)
• Pemanfaatan kondisi panas dan dingin untuk membunuh vektor dan binatang penganggu.
• Pemanfaatan kondisi musim/iklim untuk memberantas jentik nyamuk.
• Pemanfaatan suara untuk menarik atau menolak vektor dan binatang pengganggu.
• Pembunuhan vektor dan binatang pengganggu menggunakan alat pembunuh (pemukul, jepretandengan umpan, dll)
• Pengasapan menggunakan belerang untuk mengeluarkan tikus dari sarangnya sekaligusperacunan.
• Pembalikan tanah sebelum ditanami.
• Pemanfaatan arus listrik dengan umpan atau attracktant untuk membunuh vektor dan binatangpengganggu (perangkap serangga dengan listrik daya penarik menggunakan lampu neon).
3. Pengendalian Lingkungan
Merupakan cara terbaik untuk mengontrol arthropoda karena hasilnya dapat bersifat permanen. Contoh, membersihkan tempat-tempat hidup arthropoda. Terbagi atas dua cara yaitu :
• Perubahan lingkungan hidup (environmental management), sehingga vektor dan binatang penggangu tidak mungkin hidup. Seperti penimbunan (filling), pengeringan (draining), dan pembuatan (dyking).
• Manipulasi lingkungan hidup (environmental manipulation), sehingga tidak memungkinkan vektor dan binatang penggangu berkembang dengan baik. Seperti pengubahan kadar garam(solinity), pembersihan tanaman air, lumut, dan penanaman pohon bakau (mangrouves) pada tempat perkembang biakan nyamuk.
4. Pengendalian Genetik
Metode ini dimaksudkan untuk mengurangi populasi vektor dan binatang penggangu melalui teknik-teknik pemandulan vektor jantan (sterila male techniques), pengunaan bahan kimiapenghambat pembiakan (chemosterilant), dan penghilangan (hybiriditazion). Masih ada usaha yang lain seperti :
• Perbaikan sanitasi : bertujuan menghilangkan sumber-sumber makanan(food preferences),tempat perindukan (breeding places), dan tempat tinggal (resting paces), yang dibutuhkanvektor.
• Peraturan perundangan : mengatur permasalahan yang menyangkut usaha karantina,pengawasan impor-ekspor, pemusnahan bahan makanan atau produk yang telah rusak karenavektor dan sebagainya.
• Pencegahan (prevention) : menjaga populasi vektor dan binatang pengganggu tetap padasuatu tingkat tertentu dan tidak menimbulkan masalah.
• Penekanan (supresion) : menekan dan mengurangi tingkat populasinya.
• Pembasmian (eradication) : membasmi dan memusnakan vektor dan binatang penggangguyang menyerang daerah/wilayah tertentu secara keseluruhan.
5. Upaya Pengendalian Binatang Pengganggu
Dalam pendekatan ini ada beberapa teknik yang dapat digunakan, diantaranya steril technique,citoplasmic incompatibility, dan choromosom translocation. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
• Menempatkan kandang ternak di luar rumah
• Merekonstruksi rumah
• Membuat ventilasi
• Melapisi lantai dengan semen
• Melapor ke puskesmas bila banyak tikus yang mati
• Mengatur ketinggian tempat tidur setidaknya >20 cm dari lantai.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini, yaitu :
1. Pengendalian vektor adalah semua upaya yang dilakukan untuk menekan, mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak membahayakan kehidupan manusia.
2. Pengendalian vektor dilakukan bertujuan untuk menurunkan populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan. Pengendalian vektor juga dilakukan untuk meminimalisir dan memutus rantai penyebaran penyakit.
3. Adapun upaya yang dilakukan dalam pengendalian vektor yaitu : pengendalian secara kimiawi, pengendalian secara fisika-mekanik, pengendalian secara genetika, pengendalian lingkungan, dan upaya pengendalian binatang pengganggu.
B. Saran
Untuk mewujudkan kualitas dan kuantitas lingkungan yang bersih dan sehat sangat diperlukan pengetahuan yang cukup serta mendalam tentang vektor penyakit dan pengendalian vektor penyakit, sehingga kita dapat meminimalisir dan memutus rantai penyebaran penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Allina, Dwi. 2015. Makalah Pengendalian Vektor. https://www.academia.edu/12359655/MAKALAH_PENGENDALIAN_VEKTOR_Disusun_untuk_Memenuhi_Tugas (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Nagan, Peujroh. 2010. Makalah pengendalian vektor penyakit. https://peujrohnagan.blogspot.com/2010/12/makalah-pengendalian-vektor-penyakit.html?m=1 (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Wati, Nopia. 2019. Pengendalian Vektor. https://www.researchgate.net/publication/33059820_BAB_I_PENDAHULUAN_11_LATAR_BELAKANG (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Wikipedia. 2019. Vektor (Biologi). https://id.m.wikipedia.org/wiki/Vektor_(biologi) (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat serta hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan sebuah makalah tentang ‘‘Pengendalian Vektor Dan Tikus’’.
Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengendalian Vektor Dan Tikus. Selain itu, untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas mengenai cara pengendalian vektor.
Saya menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena ini saya sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Makassar, 3 April 2020
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Tujuan..........................................................................................................1
C. Manfaat........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Vektor Tikus................................................................................................2
1. Pengertian Vektor..................................................................................2
2. Penularan Penyakit................................................................................2
3. Penyakit Yang Disebabkan Oleh Vektor..............................................4
B. Pengendalian Vektor Tikus.........................................................................8
1. Pengendalian Secara Kimiawi...............................................................8
2. Pengendalian Secara Fisika-Mekanik..................................................10
3. Pengendalian Lingkungan ...................................................................11
4. Pengendalian Genetik...........................................................................11
5. Upaya Pengendalian Binatang Pengganggu.........................................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................13
B. Saran...........................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberadaan vektor dan binatang pengganggu di lingkungan kehidupan manusia sudah dimulai sejak pertama kali manusia menciptakan tempat untuk bermukim. Bangunan tempat tinggal manusia memberikan tempat pula bagi berbagai vektor dan binatang pengganggu untuk berlindung, memperoleh makanan dan berkembang biak. Dengan kondisi lingkungan yang relatif tidak ekstrim dan bebas dari musuh-musuh alaminya serta tercukupinya kebutuhan makanan, maka populasi vektor dan binatang pengganggu itu dapat terus meningkat sedemikian rupa sehingga menimbulkan masalah kesehatan manusia.
Vektor dan binatang pengganggu dapat merugikan manusia, merusak lingkungan hidup manusia dan pada gilirannya akan mengganggu kesejahteraan hidup manusia, oleh karena itu keberadaan vektor dan binatang pengganggu tersebut harus dikendalikan. Pengendalian vektor dan binatang pengganggu adalah suatu upaya untuk mengurangi atau menurunkan populasi vektor dan binatang pengganggu tersebut ke suatu tingkat yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia.
Dalam menuju Indonesia sehat tahun 2020 dan untuk mewujudkan kualitas dan kuantitas lingkungan yang bersih dan sehat serta untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesepakatan umum dari tujuan nasional, sangat diperlukan pengendalian vektor penyakit.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pengendalian vektor
2. Mengapa dilakukan upaya pengendalian vektor
3. Metode apa saja yang dilakukan dalam pengendalian vektor
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu pengendalian vektor
2. Untuk mengetahui mengapa dilakukan upaya pengendalian vektor
3. Untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan dalam pengendalian vektor
D. Manfaat
Agar mahasiswa dapat mengetahui mengapa dilakukan upaya pengendalian vektor dan metode apa saja yang dilakukan dalam pengendalian vektor.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Vektor
1. Pengertian Vektor
Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Vektor adalah organisme yang tidak menyebabkan penyakit tetapi menyebarkannya dengan membawa patogen dari satu inang ke yang lain. Vektor dapat menyebarkan agen dari manusia atau hewan yang terinfeksi ke manusia atau hewanlain yang rentan melalui kotoran, gigitan, dancairan tubuhnya, atau secara tidak langsung melalui kontaminasi pada makanan.Vektor dapat memindahkan atau menularkan agent penyakit yang berada didalam atau pun yang menempel dan terdapat di bagian luar tubuh vektor tersebut. Suatu makhluk hidup terutama manusia dapat tertular penyakit melalui vector yang membawa agent penyakit, misalnya dengan menggigit dan menghisap darah dari orang yang sakit lalu kepada orang yang rentan, sehingga ia pun dapat tertular dan menjadi sakit.
Keberadaan vektor dan binatang penggangu tersebut harus di tanggulangi, sekalipun demikian tidak mungkin membasmi sampai keakar-akarnya melainkan kita hanya mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasinya kesatu tingkat tertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia. Dalam hal ini untuk dilakukan pengendalian dengan arti kegiatan-kegiatan/proses pelaksanaan yang bertujuan untuk menurunkan densitas populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan. Jadi Pengendalian vektor adalah semua upaya yang dilakukan untuk menekan, mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak membahayakan kehidupan manusia.
2. Penularan Penyakit
Mekanisme penularan penyakit oleh vektor terbagi dua macam, yaitu penularan penyakit oleh vektor secara mekanik dan penularan penyakit oleh vektor secara biologis.
a. Penularan Penyakit Oleh Vektor Secara Mekanik
Penularan mekanik berlangsung karena kuman penyakit terbawa dengan perantaraan alat-alat tubuh vektor. Kuman penyakit dalam tubuh serangga tidak bertambah banyak ataupun berubah bentuk. Pada penularan penyakit melalui vektor secara mekanik, maka agen dapat berasal dari tinja, urine maupun sputum (dahak) penderita hanya melekat pada bagian tubuh vektor dan kemudian dapat dipindahkan pada makanan atau minuman pada waktu hinggap/menyerap makanan tersebut. Contoh :
• Lalat Tabanus melalui probosisnya menularkan basil Anthrax danTrypanosoma evansi.
• Lalat rumah (Musca domestica) dengan perantara kaki dan badannya,mularkan telurcacing dan bakteri.
b. Penularan Penyakit Oleh Vektor Secara Biologi
Penularan biologis berlangsung dengan bertindak sebagai tuan rumah (host), berarti adanya kelanjutan hidup kuman penyakit yang dipindahkan. Penularan penyakit melalui vektor secara biologis, agen harus masuk kedalam tubuh vektor melalui gigitan ataupun melalui keturunannya. Selama dalam tubuh vektor, agen berkembang biak atau hanya mengalami perubahan morfologis saja, sampai pada akhirnya menjadi bentuk yang infektif melalui gigitan, tinja atau cara lainuntuk berpindah ke pejamu potensial. Pada penularan penyakit melalui vektor secarabiologis,perubahan bentuk atau perkembangbiakan agen dibedakan sebagai berikut:
a. Propagative transmission
Agen berkembang biak di dalam tubuh vektor tanpa mengalamiperubahan stadium.
Contoh :
• Yersinia pestis (agen pes) di dalam tubuh pinjal (flea) Xenopsyllacheopis. Pinjal sebagaivektor bisa mati oleh Yersinia pestis.
b. Cyclo propagative transmission
Agen mengalami perubahan stadium dan perkembangbiakan didalam tubuh vector.
Contoh :
• Plasmodium (agen malaria) di dalam tubuh nyamuk Anopheles.
c. Cyclo developmental transmission
Agen mengalami perubahan stadium hingga mencapai stadiuminfektif di dalam tubuhvektor tetapi tidak mengalamiperkembangbiakan.
Contoh :
• Cacing filaria di dalam tubuh nyamuk dengan genus Mansonia danAnopheles, sertaspesies nyamuk Culex quinquefasciatus.
d. Transovarian/Hereditary (keturunan)
Generasi yang terkena infeksi tidak menularkan penyakit padamanusia, tetapi menularkan pada anaknya.Penularan terjadi melalui generasi berikutnya.
Contoh:
• Penyakit Scrub thypus yang disebabkan oleh Ricketsiatsutsugamushi dari tikusTrombicula akamushi (sejenis tungau atau mites).
3. Penyakit Yang Disebabkan Oleh Vektor
a) Nyamuk (Mosquito)
Nyamuk adalah vektor mekanis atau vektor siklik penyakit pada manusia dan hewan yangdisebabkan oleh parasit dan virus, nyamuk dari genus Psorophora dan Janthinosoma yangterbang dan menggigit pada siang hari, membawa telur dari lalat Dermatobia hominis danmenyebabkan myiasis pada kulit manusia atau ke mamalia lain. Species yang merupakan vektorpenting penyebab penyakit pada manusia antara lain penyakit :
a. Malaria
Vektor siklik satu-satunya dari malaria pada manusia dan malaria kera adalah nyamuk Anopheles, sedangkan nyamuk Anopheles dan Culex kedua-duanya dapat menyebabkan malaria pada burung.
Secara praktis tiap species Anopheles dapat diinfeksi secara eksperimen, tetapi banyakspecies bukan vektor alami.Sekitar 110 species pernah dihubungkan dengan penularan malaria,diantaranya 50 species penting terdapat dimana-mana atau setempat yang dapat menularkan penyakit malaria.
Sifat suatu species yang dapat menularkan penyakit ditentukan oleh :
• Adanya di dalam atau di dekat tempat hidup manusia.
• Lebih menyukai darah manusia dari pada darah hewan, walaupun bila hewan hanyasedikit.
• Lingkungan yang menguntungkan perkembangan dan memberikan jangka hidup cukuplama pada Plasmodium untuk menyelesaikan siklus hidupnya.
• Kerentanan fisiologi nyamuk terhadap parasit .
Untuk menentukan apakah suatu species adalah suatu vektor yang sesuai, maka dapatdicatat persentase nyamuk yang kena infeksi setelah menghisap darah penderita malaria,prnentuan suatu species nyamuk sebagai vektor dapat dipastikan dengan melihat daftar indexinfeksi alami, biasanya sekitar 1-5%, pada nyamuk betina yang dikumpulkan dari rumah-rumahdi daerah yang diserang malaria.
b. Filariasis
Nyamuk Culex adalah vektor dari penyakit filariasis Wuchereria bancrofti dan Brugiamalayi.Banyak species Anopheles, Aedes, Culex dan Mansonia, tetapi kebanyakan dari speciesini tidak penting sebagai vektor alami. Di daerah tropis dan subtropis, Culex quinquefasciatus(fatigans), nyamuk penggigit di lingkungan rumah dan kota, yang berkembang biak dalam airsetengah kotor sekitar tempat tinggal manusia, adalah vektor umum dari filariasis bancrofti yangmempunyai periodisitas nokturnal. Aedes polynesiensis adalah vektor umum filariasis bancrofti yang non periodisitas di beberapa kepulauan Pasifik Selatan . Nyamuk ini hidup diluar kota disemak-semak (tidak pernah dalam rumah) dan berkembang biak di dalam tempurung kelapa danlubang pohon, mengisap darah dari binatang peliharaan mamalia dan unggas, tetapi lebihmenyukai darah manusia.
c. Demam Kuning
Demam kuning (Yellow Fever) penyakit virus yang mempunyai angka kematian tinggi, telahmenyebar dari tempat asalnya dari Afrika Barat ke daerah tropis dan subtropis lainnya di dunia,Nyamuk yang menggigit pada penderita dalam waktu tiga hari pertama masa sakitnya akanmenjadi infektif selama hidupnya setelah virusnya menjalani masa multifikasi selama 12 hari. Vektor penyakit ini adalah species nyamuk dari genus Aedes dan Haemagogus, Aedesaegypti adalah vektor utama demam kuning epidemik, hidup disekitar daerah perumahan,berkembang biak dalam berbagai macam tempat penampungan air sekitar rumah, larva tumbuhsubur sebagai pemakan zat organik yang terdapat didasar penampungan air bersih (bottomfeeders) atau air kotor yang mengandung zat organik.
d. Dengue Hemorrhagic Fever
Dengue Hemorrhagic Fever adalah penykit endemik yang disebabkan oleh virus di daerah tropis dan subtropis yangkadang-kadang menjadi epidemik.Virus membutuhkan masa multifikasi selama 8-10 harisebelum nyamuk menjadi infektif, khususnya ditularkan oleh species Aedes, terutama A.aegypti. Penyakit ini merupakan penyakit endemis di Indonesia dan terjadi sepanjang tahunterutama pada saat musim penghujan.
b) Lalat
a. Lalat Rumah (Housefly)
Lalat rumah, Musca domestica, hidup disekitar tempat kediaman manusia di seluruhdunia.Seluruh lingkaran hidup berlangsung 10 sampai 14 hari, dan lalat dewasa hidup kira-kira satu bulan. Larvanya kadang-kadang menyebabkan myasis usus dan saluran kencing serta saluran kelamin.
Lalat adalah vektor mekanik dari bakteri patogen, protozoa serta telur dan larva cacing,Luasnya penularan penyakit oleh lalat di alam sukar ditentukan.Dianggap sebagai vektorpenyakit typhus abdominalis, salmonellosis, cholera, dysentery bacillary dan amoeba,tuberculosis, penyakit sampar, tularemia, anthrax, frambusia, conjunctivitis, demam undulans,trypanosomiasis dan penyakit spirochaeta.
b. Lalat Pasir (Sandfly)
Lalat pasir ialah vektor penyakit leishmaniasis, demam papataci dan bartonellosisi. Leishmania donovani, penyebab Kala azar; L. tropica, penyebab oriental sore; danL. braziliensis, penyebab leishmaniasis Amerika, ditularkan oleh Phlebotomus. Demam papataciatau demam phlebotomus, penyakit yang disebabkan oleh virus banyak terdapat di daerah Mediterania dan Asia Selatan, terutama ditularkan oleh P. papatsii, yang menjadi infektif setelah masa perkembangan virus selama 7-10 hari. Bartonellosis juga terdapat di Amerika Selatan bagian Barat Laut sebagai demam akut penyakit Carrion dan sebagai keadaan kronis berupa granulema verrucosa. Basil penyebab adalah Bartonella bacilliformis, ditularkan oleh lalat pasiryang hidup di daerah pegunungan Andes.
c. Lalat Tsetse (Tsetse Flies)
Lalat tsetse adalah vektor penting penyakit trypanosomiasis pada manusia dan hewanpeliharaan.Paling sedikit ada tujuh species sebagai vektor infeksi trypanosoma pada hewanpeliharaan, species Trypanosoma rhodesiense yang menjadi, penyebab trypanosomiasis, adalah Glossina morsitans, G. swynnertoni, dan G. Pallidipes.Vektor utama pada Penyakit Tidur (Sleeping Sickness) di Gambia adalah species G. palpalis fuscipes dan pada daerah-daerah tertentu adalah species G. tachhinoides.
d. Lalat Hitam (Blackflies)
Lalat hitam adalah vektor penyakit Oncheocerciasis Di Afrika adalah species Simulium damnosum danS. neavei dan di Amerika adalah S. metallicum, S. ochraceum dan S. callidum. Species lainmungkin adalah vektor yang tidak penting dan menularkan onchocerciasis pada ternak danpenyakit protozoa pada burung.
c) Tuma Kepala, Tuma badan, dan Tuma Kemaluan (Head Lice, Body Lice, and Crab Lice)
Tuma badan adalah vektor epidemic typhus, epidemic relapsing fever di Eropa dan Amerika Latin. Tuma mendapat infeksi dari Reckettsia prowazeki, bila menghisap darah penderita. Rickettsia berkembang biak dalam epitel lambung tengah tuma dan dikeluarkan bersama tinja. Tuma tetap infektif selama hidupnya. Manusia biasanya mendapat infeksi karena kontaminasi pada luka gigitan, kulit yang lecet atau mukosa dengan tinja atau badan tuma yang terkoyak bila oleh spirochaeta Borrelia recurrentis, penyebab epidemic relapsing fever di Eropa, spirochaeta akan berkembang biak di seluruh tubuh tuma, yang tetap infektif selama hidupnya,. Demam parit, suatu penyakit yang disebabkan oleh Rickettsia juga ditularkan oleh tuma tetapi tidak fatal,pernah berjangkit sebagai penyakit epidemik selama Peran Dunia pertama dan kemudianmenjadi endemik di Eropa dan Mexico.
d) Pinjal (Fleas)
Pinjal adalah serangga yang termasuk ordo siphonatera. Pinjal merupakan seranggaparasit yang umumnya ditemukan pada hewan namun terkadang juga pada manusia. Pinjalmenghisap darah dari inang yang ditumpanginya. Saat pinjal menggigit kulit inangnya, air ludahpinjal akan ikut masuk ke dalam jaringan kulit dan menyebabkan radang serta alergi. Selain itu,kotoran pinjal juga dapat menyebabkan penyakit Rickettsia jika masuk kedalam luka gigitannya.Pinjal hanya penting dalam dunia kedokteran terutama yang berhubungan dengan penularanpenyakit sampar dan endemic typhus. Pinjal dapat juga bertindak sebagai hospes perantaraparasit.
e) Tungau (Mites)
Tungau adalah vektor pada penyakit tsutsugamushi atau scrub typhus yang disebabkan olehRickettsia tsutsugamushi, tungau mengigit manusia menyebabkan luka bernanah disertai demamyang remiten, lymphadenitis, splenomegaly dan suatu eritema yang merah sekali.
Vektor utamanya adalah Trombicula akamushi dan T. deliensis, tungau menularkanpenyakit pada stadium larva sedangkan larvanya adalah parasit pada tikus ladang di Jepang danbeberapa tikus rumah dan tikus lading di Taiwan dan di Indonesia.Manusia merupakan hospessecara kebetulan, larvanya melekatkan diri pada pekerja di ladang.Penyakit ini dapat ditularkandari generasi ke generasi, sehingga larva generasi kedua mampu menginfeksi manusia.
B. Pengendalian Vektor
Ada beberapa cara pengendalian vektor dan binatang pengganggu diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Pengendalian Secara Kimiawi
Cara ini lebih mengutamakan penggunaan pestisida/rodentisida untuk peracunan. Penggunaan racun untuk memberantas vektor lebih efektif namun berdampak masalah gangguan kesehatan karena penyebaran racun tersebut menimbulkan keracunan bagi petugas penyemprot maupun masyarakat dan hewan peliharaan. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1960-an yang menjadi titik tolak kegiatan kesehatan secara nasional (juga merupakan tanggal ditetapkannya Hari Kesehatan Nasional), ditandai dengan dimulainya kegiatan pemberantasan vektor nyamuk menggunakan bahan kimia DDT atau Dieldrin untuk seluruh rumah penduduk pedesaan. Hasilnya sangat baik karena terjadi penurunan densitas nyamuksecara drastis, namun efek sampingnya sungguh luar biasa karena bukan hanya nyamuk saja yang matimelainkan cicak juga ikut mati keracunan (karena memakan nyamuk yang keracunan), cecak tersebutdimakan kucing dan ayam, kemudian kucing dan ayam tersebut keracunan dan mati, bahkan manusia jugsterjadi keracunan Karena menghirup atau kontak dengan bahan kimia tersebut melalui makanan tercemaratau makan ayam yang keracunan.
Selain itu penggunaan DDT/Dieldrin ini menimbulkan efek kekebalan tubuh pada nyamuk sehingga pada penyemprotan selanjutnya tidak banyak artinya. Selanjutnya bahan kimia tersebut dilarang digunakan. Penggunaan bahan kimia pemberantas serangga tidak lagi digunakan secara massal, yangmasih dgunakan secra individual sampai saat ini adalah jenis Propoxur (Baygon). Pyrethrin atau dariekstrak tumbuhan/bunga-bungaan.
Untuk memberantas Nyamuk Aedes secara missal dilakukan fogging bahan kimia jenisMalathion/Parathion, untuk jentik nyamuk Aedes digunakan bahan larvasida jenis Abate yang dilarutkandalam air. Cara kimia untuk membunuh tikus dengan menggunakan bahan racun arsenic dan asamsianida. Arsenik dicampur dalam umpan sedangkan sianida biasa dilakukan pada gudang-gudang besartanpa mencemai makanan atau minuman, juga dilakukan pada kapal laut yang dikenal dengan istilah fumigasi. Penggunaan kedua jenis racun ini harus sangat berhati-hati dan harus menggunakan masker karena sangat toksik terhadap tubuh manusia khususnya melalui saluran pernafasan.
Penggunaan bahan kimia lainnya yang tidak begitu berbahaya adalah bahan attractant dan repellent. Bahan Attractant adalah bahan kimia umpan untuk menarik serangga atau tikus masuk dalam perangkap. Sedangkan repellent adalah bahan/cara untuk mengusir serangga atau tikus tidak untuk membunuh. Contohnya bahan kimia penolak nyamuk yang dioleskan ke tubuh manusia (Autan, SariPuspa, dll) atau alat yang menimbulkan getaran ultrasonic untuk mengusir tikus (fisika).
Pada pendekatan ini, dilakukan beberapa golongan insektisida seperti golongan organoklorin,golongan organofosfat, dan golongan karbamat. Namun, penggunaan insektisida ini sering menimbulkan resistensi dan juga kontaminasi pada lingkungan. Macam – macam insektisida yang digunakan:
• Mineral (Minyak), misalnya minyak tanah, boraks, solar, dsb.
• Botanical (Tumbuhan), misalnya Pyrethum, Rotenone, Allethrin, dsb. Insektisida botanical ini disukai karena tidak menimbulkan masalah residu yang toksis.
• Chlorined Hyrocarbon, misalnya DDT, BHC, Lindane, Chlordane, Dieldrin, dll. Tetapi penggunaaninsektisida ini telah dibatasi karena resistensinya dan dapat mengkontaminasi lingkungan.
• Organophosphate, misalnya Abate, Malathion, Chlorphyrifos, dsb. Umumnya menggantikanChlorined Hydrocarbon karena dapat melawan vektor yang resisten dan tidak mencemari lingkungan.
• Carbamate, misalnya Propoxur, Carbaryl, Dimetilen, Landrin, dll. Merupakan suplemen bagiOrganophosphate.
• Fumigant, misalnya Nophtalene, HCN, Methylbromide, dsb. Adalah bahan kimia mudah menguapdan uapnya masuk ke tubuh vektor melalui pori pernapasan dan melalui permukaan tanah.
• Repelent, misalnya diethyl toluemide. Adalah bahan yang menerbitkan bau yang menolak serangga,dipakaikan pada kulit yang terpapar, tidak membunuh serangga tetapi memberikan perlindunganpada manusia.
2. Pengendalian Fisika-Mekanika
Cara ini menitikberatkan kepada pemanfaatan iklim/musim dan menggunakan alat penangkap mekanis antara lain :
• Pemasangan perangkap tikus atau perangkap serangga
• Pemasangan jaring
• Pemanfaatan sinar/cahaya untuk menarik atau menolak (to attrack and to repeal)
• Pemanfaatan kondisi panas dan dingin untuk membunuh vektor dan binatang penganggu.
• Pemanfaatan kondisi musim/iklim untuk memberantas jentik nyamuk.
• Pemanfaatan suara untuk menarik atau menolak vektor dan binatang pengganggu.
• Pembunuhan vektor dan binatang pengganggu menggunakan alat pembunuh (pemukul, jepretandengan umpan, dll)
• Pengasapan menggunakan belerang untuk mengeluarkan tikus dari sarangnya sekaligusperacunan.
• Pembalikan tanah sebelum ditanami.
• Pemanfaatan arus listrik dengan umpan atau attracktant untuk membunuh vektor dan binatangpengganggu (perangkap serangga dengan listrik daya penarik menggunakan lampu neon).
3. Pengendalian Lingkungan
Merupakan cara terbaik untuk mengontrol arthropoda karena hasilnya dapat bersifat permanen. Contoh, membersihkan tempat-tempat hidup arthropoda. Terbagi atas dua cara yaitu :
• Perubahan lingkungan hidup (environmental management), sehingga vektor dan binatang penggangu tidak mungkin hidup. Seperti penimbunan (filling), pengeringan (draining), dan pembuatan (dyking).
• Manipulasi lingkungan hidup (environmental manipulation), sehingga tidak memungkinkan vektor dan binatang penggangu berkembang dengan baik. Seperti pengubahan kadar garam(solinity), pembersihan tanaman air, lumut, dan penanaman pohon bakau (mangrouves) pada tempat perkembang biakan nyamuk.
4. Pengendalian Genetik
Metode ini dimaksudkan untuk mengurangi populasi vektor dan binatang penggangu melalui teknik-teknik pemandulan vektor jantan (sterila male techniques), pengunaan bahan kimiapenghambat pembiakan (chemosterilant), dan penghilangan (hybiriditazion). Masih ada usaha yang lain seperti :
• Perbaikan sanitasi : bertujuan menghilangkan sumber-sumber makanan(food preferences),tempat perindukan (breeding places), dan tempat tinggal (resting paces), yang dibutuhkanvektor.
• Peraturan perundangan : mengatur permasalahan yang menyangkut usaha karantina,pengawasan impor-ekspor, pemusnahan bahan makanan atau produk yang telah rusak karenavektor dan sebagainya.
• Pencegahan (prevention) : menjaga populasi vektor dan binatang pengganggu tetap padasuatu tingkat tertentu dan tidak menimbulkan masalah.
• Penekanan (supresion) : menekan dan mengurangi tingkat populasinya.
• Pembasmian (eradication) : membasmi dan memusnakan vektor dan binatang penggangguyang menyerang daerah/wilayah tertentu secara keseluruhan.
5. Upaya Pengendalian Binatang Pengganggu
Dalam pendekatan ini ada beberapa teknik yang dapat digunakan, diantaranya steril technique,citoplasmic incompatibility, dan choromosom translocation. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
• Menempatkan kandang ternak di luar rumah
• Merekonstruksi rumah
• Membuat ventilasi
• Melapisi lantai dengan semen
• Melapor ke puskesmas bila banyak tikus yang mati
• Mengatur ketinggian tempat tidur setidaknya >20 cm dari lantai.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini, yaitu :
1. Pengendalian vektor adalah semua upaya yang dilakukan untuk menekan, mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak membahayakan kehidupan manusia.
2. Pengendalian vektor dilakukan bertujuan untuk menurunkan populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan. Pengendalian vektor juga dilakukan untuk meminimalisir dan memutus rantai penyebaran penyakit.
3. Adapun upaya yang dilakukan dalam pengendalian vektor yaitu : pengendalian secara kimiawi, pengendalian secara fisika-mekanik, pengendalian secara genetika, pengendalian lingkungan, dan upaya pengendalian binatang pengganggu.
B. Saran
Untuk mewujudkan kualitas dan kuantitas lingkungan yang bersih dan sehat sangat diperlukan pengetahuan yang cukup serta mendalam tentang vektor penyakit dan pengendalian vektor penyakit, sehingga kita dapat meminimalisir dan memutus rantai penyebaran penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Allina, Dwi. 2015. Makalah Pengendalian Vektor. https://www.academia.edu/12359655/MAKALAH_PENGENDALIAN_VEKTOR_Disusun_untuk_Memenuhi_Tugas (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Nagan, Peujroh. 2010. Makalah pengendalian vektor penyakit. https://peujrohnagan.blogspot.com/2010/12/makalah-pengendalian-vektor-penyakit.html?m=1 (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Wati, Nopia. 2019. Pengendalian Vektor. https://www.researchgate.net/publication/33059820_BAB_I_PENDAHULUAN_11_LATAR_BELAKANG (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Wikipedia. 2019. Vektor (Biologi). https://id.m.wikipedia.org/wiki/Vektor_(biologi) (diakses pada tanggal 2 April 2020)
Komentar
Posting Komentar